Akhir Kisah atau Permulaan Sebuah Kisah? - Resensi Buku Selena dan Nebula Oleh Tere Liye

Akhir Kisah atau Permulaan Sebuah Kisah?
Resensi Buku Selena dan Nebula Karya Tere Liye
Oleh Zhafira Nuraina



Data Buku :
1. Judul : Selena
2. Pengarang : Tere Liye
3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
4. Tahun terbit : 16 Maret 2020; Cetakan I
5. Tebal : 368 halaman; 20 cm
6. Harga : Rp 85.000

1. Judul : Nebula
2. Pengarang : Tere Liye
3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
4. Tahun terbit : 16 Maret 2020; Cetakan I
5. Tebal : 376 halaman; 20 cm
6. Harga : Rp 85.000

      Selena dan Nebula adalah buku ke-8 dan ke-9 dari seri bumi yang menceritakan kisah persahabatan antara Raib, Ali, dan Seli. Di kedua buku tersebut, menceritakan kisah hidup guru matematika mereka yaitu Miss Selena atau yang dikenal dengan Miss Keriting. Akademi bayangan tingkat tinggi, kisah persahabatan antara Miss Selena, Mata, dan Tazk, serta perjalanan mengungkap kebenaran akan mitos yang berujung pada pengkhianatan dan pengorbanan.
           Sekali lagi, Tere Liye berhasil membuat imajinasi seseorang terbang tinggi dengan membaca kedua buku tersebut yang tidak kalah hebatnya dengan buku-buku sebelumnya. Sosok misterius Miss Selena pun dikisahkan secara jelas dalam kedua buku tersebut.
            Dalam buku Selena, perkembangan sosok Selena diceritakan secara matang. Penjelasan yang singkat, padat, dan jelas membuat bayangan kita akan sosok Selena terbangun dengan kuat.
        Pantang menyerah, naif, dan ambisius adalah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan tentang Selena. Hidupnya yang sulit sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi anak yang pantang menyerah. Walaupun hidup dalam kesulitan dan keterbatasan, hal tersebut tidak membuat Selena tumbuh menjadi anak yang gelap hatinya.
            Sosok Selena yang dikisahkan dalam kedua buku membuat pembaca seakan-akan ikut tumbuh bersamanya. Pembaca dapat merasakan perasaan Selena, terutama saat rasa cinta yang mulai tumbuh di hatinya.
        Cinta dapat membuat kita hilang akal, sama seperti Selena yang begitu terbutakan oleh rasa cintanya terhadap Tazk. Selena adalah pengintai yang hebat, namun ia tidak dapat memahami sikap dan perilaku yang Tazk tunjukan kepadanya.
       Cinta memang selalu menumbuhkan harapan semu bagi orang yang sedang merasakannya. Selena pun juga merasakannya. Matanya yang jeli dalam mengamati, pun tidak bisa ia lakukan kepada Tazk. Inilah yang membuat menarik dari kedua buku tersebut. Selena digambarkan bukan sebagai tokoh dengan segala kesempurnaannya yang ganjil, namun digambarkan sebagai manusia yang memang tidak luput dari kesempurnaan. Sebagai manusia yang pasti punya kekurangan.
        Cerita demi cerita dituliskan dengan baik. Bahkan untuk cerita yang membutuhkan imajinasi tinggi, seperti saat sedang bertarung dituliskan dengan sangat baik. Sehingga pembaca tidak kebingungan saat membayangkan adegan tersebut. Tere Liye selalu berhasil dalam membangun imajinasi pembaca akan goresan kisah dalam buku-bukunya.
        Kelanjutan kisah Selena dalam buku Nebula pun dikisahkan dengan sangat baik. Karakter Selena pun semakin berkembang. Perasaannya yang ambisius dan cinta yang dimilikinya semakin menguat. Pembaca juga dapat bertemu dengan tokoh-tokoh baru dan dalam buku ini pula, kebenaran tentang orang tua kandung Raib terungkap.
       Tidak ada sekat pemisah antara buku Selena dan Nebula. Perasaan semangat saat membaca mengalir begitu saja saat berpindah dari buku Selena lalu Nebula.
Terlepas dari segala kehebatan dalam kedua buku tersebut, dalam buku Selena menurut saya terdapat keganjilan cerita. Pada episode 22, untuk pertama kalinya  Bibi Gill mengajarkan tentang ‘Kunci dan Cara Membukanya’ kepada Selena dalam mata kuliah ‘Malam dan Misterinya’. Namun, dalam epsiode 23 yang mana kelanjutan dari epidose 22 di Halaman 255, Selena menuturkan bahwa ia ‘3 bulan yang lalu juga menemukan pintu yang menyebalkan’, sedangkan dalam episode 22 Selena baru pertama kali diajarkan.
       Dalam buku Nebula, halaman 79, terdapat kalimat “Splash! Splash! Mata berpindah ‘tepat’, menutup belakang kami.” menurut saya seharusnya kata ‘tepat’, lebih baik digantikan dengan kata ‘tempat’ karena lebih tepat digunakan dalam konteks kalimat yang ada dalam buku.
       Walaupun terdapat kesalahan-kesalahan seperti yang sudah saya jelaskan di atas, hal ini tidak membuat penilaian saya terhadap buku Selena dan Nebula menurun. Orang-orang pun dapat saja tidak menyadari kesalahan tersebut karena hanyut dalam suasana membaca yang sangat menyenangkan. Secara keseluruhan kedua buku tersebut tetaplah baik dalam pembangunan karakter, alur cerita, penjelasan yang singkat namun sangat jelas, sehingga membuat pembaca terus ingin membuka lembar selanjutnya.
       Dari kedua buku tersebut kita dapat mengambil banyak pelajaran tentang keikhlasan, semangat juang, manisnya persahabatan, dan pahit manisnya kehidupan perkuliahan. Kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa seseorang yang awalnya asing dalam hidup kita, dapat menjadi sangat berharga dalam hidup kita keesokan harinya.
     Kisah yang ada dalam kedua buku tersebut, bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan yang akan terus dihadapi oleh para tokoh dalam perjalanan buku berikutnya. Termasuk para pembacanya yang akan senantiasa terus menemani perjalanan tersebut.
     Tere Liye memang menuturkan kisah fantasi dalam kedua buku tersebut, namun pesan yang disampaikan bukanlah fantasi belaka. Pesan-pesan yang disampaikan, tertanam baik di hati para pembacanya. Termasuk saya, Zhafira, penikmat kisah-kisah yang digoreskan oleh Tere Liye.
     Terima kasih Tere Liye karena telah melukiskan kisah yang sangat indah. Terima kasih juga karena telah menyisipkan kisah manis antara Raib dan Ali. Kutunggu karyamu selanjutnya.
        Terima kasih saya ucapkan bagi yang sudah membaca tulisan saya ini.


Comments